Dapur Bersih Siap Menang Sengketa
Saat melakukan review atas sebuah sengketa, saya teringat kejengkelan saya sebagai orang tua yang sering menemani atau lebih tepatnya mewakili anak saya dalam membuat kerajinan tangan atau tugas prakarya dari sekolahnya.
Saya seringkali merasa jengkel atas tugas yang diberikan kepada anak saya saat masih di kelas dua Sekolah Dasar (SD). Sepertinya, tugas membuat sebuah kerajinan tangan atau prakarya tersebut seringkali tidak memperhitungkan kemampuan anak.
Prakarya yang ditugaskan menurut saya tidak dapat dilakukan oleh seorang anak usia di kelas satu atau kelas dua SD. Akibatnya, tugas tersebut beralih menjadi tugas atau pekerjaan rumah untuk orang tuanya.
Prakarya yang dipajang di kelas dan seringkali di-share dalam grup chat orang tua sangat tidak meyakinkan bahwa karya tersebut adalah hasil karya asli yang dibuat oleh anak-anak. Yang membuat saya berpikir adalah apa yang mau dicapai atas penugasan tersebut. Kemampuan motorik anak-anak seusia tersebut belum mampu menciptakan suatu prakarya yang sempurna tanpa cacat.
Saya akan sangat senang bila yang terpajang di kelas adalah hasil karya anak-anak walaupun karya tersebut memiliki banyak sekali kekurangan. Anak-anak akan bangga karyanya terpajang di kelas meskipun karyanya tidak sempurna. Sayangnya, prakarya yang dipamerkan sangat sempurna tanpa cacat dimana tidak mungkin anak seusia tersebut dapat melakukannya sendiri.
Kelas telah mengklaim pencapaian terbaik namun dalam usaha dan proses yang ditempuhnya mengabaikan esensi yang ingin dicapai dari penugasan tersebut yaitu proses bagi anak-anak untuk melatih skill motorik dan pengembangan daya imaginasinya. Saya menyebut hal tersebut sebagai pencapaian palsu.
Pencapaian dalam Dunia Kerja
Saya melihat pencapaian palsu tersebut merupakan intervensi kepentingan dunia kerja atas dunia pendidikan. Ada kepentingan lain dalam pencapaian palsu tersebut.
Setelah menyelesaikan review atas sengketa tersebut, saya melihat ada kesamaan motif antara sengketa yang terjadi dengan cerita di atas yaitu penyampaian informasi yang tidak sebenarnya. Dalam sengketa tersebut terjadi pencapaian palsu demi kepentingan financial dengan menggunakan justifikasi prinsip ekonomi dan efisiensi.
Dalam dunia keuangan khususnya akuntansi, saya mengibaratkan pembukuan dalam sebuah perusahaan ibarat dapur dalam sebuah resto. Perencanaan keuangan, teknik dalam pembukuan, sampai dengan penyusunan laporan keuangan merupakan kegiatan internal yang dilakukan oleh akuntan internal. Proses internal yang dilakukan tim akuntansi tersebut bagaikan kerja tim di dapur yang disupervisi oleh chef de cuisine.
Kegiatan internal tersebut berjalan seperti layaknya kegiatan memasak di dapur resto. Berbagai jenis masakan diolah dengan metode yang berbeda, bahan masakan serta jenis-jenis bumbu yang memiliki cita rasa dan timbangan sesuai komposisi dan takarannya sehingga bisa tercipta suatu sajian nikmat yang disebut laporan keuangan.
Chef yang handal akan memimpin kegiatan memasak di dalam dapur sesuai prosedur dan membuat kondisi dapur yang bersih, tidak akan ada kotoran yang mengganggu, dan tidak ada makanan yang terbuang sia-sia.
Dapur bersih merupakan kiasan atas laporan keuangan yang disusun melalui perencanaan keuangan, proses pembukuan, dan penyusunan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum. Perusahaan perlu berkomitmen dengan integritas dalam setiap tindakannya secara jujur, adil, dan etis dalam setiap aspek operasional dan interaksi dengan pelanggan, karyawan, dan mitra bisnis. Perusahaan model seperti ini biasanya akan memenangkan sengketa yang bersifat pembuktian.
Laporan keuangan merupakan laporan untuk mengukur keberhasilan kegiatan usaha Anda dalam suatu periode tertentu. Anda puas atas laporan keuangan yang diterbitkan? Kepuasan akan muncul ketika kerja keras dan kerja cerdas berbuah hasil positif. Hasil positif tersebut pada dasarnya timbul dari kerja yang dilandasi nilai-nilai kebaikan.
Sebaliknya, hasil negatif dapat disebabkan dari niatan kerja yang tidak pantas dan tidak patut. Akibat tergiur dengan bisikan penggunaan faktur pajak fiktif, usaha yang dirintis puluhan tahun dengan kerja keras menjadi hancur dan berbuah eksekusi pidana. Apakah ini cerita fiktif? Tidak kawan, ini true story yang tidak pantas ditiru.
Ciptakan Dapur Bersih Untuk Sajian Nikmat
Bila Anda mencari dan memilih tarif pajak yang lebih rendah, saya berpandangan hal tersebut masih wajar dan dapat dimaklumi. Sebagai orang yang masih waras dan masih menggunakan akal sehatnya, penghematan dalam hal pengeluaran termasuk pajak adalah hal yang logis dan manusiawi.
Namun, dalam hal Anda mencari dan memilih teknik kriminal seperti pengeluaran fiktif untuk meminimalkan pembayaran pajak maka saya menyebut Anda sebagai orang yang tidak bersyukur. Tuhan telah memberikan Anda keuntungan namun Anda mengelabui pihak lain dengan memanipulasi kondisi keuangan Anda dari yang sebenarnya.
Secara jujur perlu kita ungkapkan bahwa untuk menjadi pribadi yang jujur dalam sikap dan perbuatan adalah tidak mudah. Saya kadang berpikir lebih mudah untuk menjerumuskan diri dalam kebohongan dan kepalsuan namun itu bukan pilihan yang bijak dan tidak akan membahagiakan.
Banyak terjadi pada perkara sengketa dimana wajib pajak seringkali kalah. Wajib Pajak tidak memberikan berkas atau dokumen sumber dan dokumen pendukung saat dilakukan pemeriksaan pajak dan demikian pula saat di persidangan. Akibatnya, Pemeriksa Pajak menempuh metode pemeriksaan secara tidak langsung dengan melakukan analisis keuangan karena tidak ada dokumen atau dokumen yang tersedia tidak memadai untuk dilakukan metode pemeriksaan secara langsung.
Hal yang berbeda terjadi pada wajib pajak yang seringkali dimenangkan oleh Majelis Hakim. Wajib Pajak yang mempunyai dapur yang bersih dan chef yang handal maka kemungkinan besar tersedianya sajian nikmat sangat besar. Terciptanya laporan keuangan yang memenuhi standar akuntansi dan fiskal menjadi suatu keniscayaan.
Untuk menciptakan sajian yang nikmat, Anda sebagai wajib pajak harus melakukan perencanaan keuangan, pembukuan, serta penyusunan sesuai standar akuntansi dan fiskal yang berlaku serta didukung bukti-bukti yang kompeten dan relevan.
Tempuh Upaya Hukum Sesuai Jalur Hukum Yang Tersedia
Bila Anda mengalami sengketa pajak maka pelajarilah hasil putusan atas kasus sengketa yang sejenis. Anda perlu memahami administrasi upaya hukum dan norma hukum yang mengaturnya dan sebaiknya pengajuan upaya hukum sesuai dengan jalur hukum yang tersedia. Pengajuan upaya hukum yang tidak pada tempatnya maka harus siap untuk menemui kekalahan.
Dalam upaya hukum pun tidak perlu langkah-langkah ekstrem. Pertimbangkan seberapa kuat posisi Anda untuk memenangkan sengketa. Bila Anda tidak mengetahui bahkan buta dalam dunia hukum maka berhati-hatilah dalam menempuh upaya hukum.
Tidak perlu Anda memaksakan menempuh upaya hukum dengan jalur ekstrem dengan cara memviralkan melalui media sosial online atau di-publish untuk ditonton seluruh dunia. Ada risiko data dan informasi serta kegiatan pribadi Anda akan tersebar di dunia maya. Cari dan temukan ahli yang dapat membimbing dan mengarahkan pada langkah hukum yang aman dan akurat.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi penulis dan pembacanya. Salam bahagia untuk Anda dan BijakPajak.com.